DARI KAPAN USKUP KITA HINGGA INI USKUP KITA: APA yANG ANDA DAN SAYA BUAT UNTUK USKUP KITA
‘habemus episcopum novum’
Habemus Papam (we have a Pope) yang berarti kita sudah memiliki Paus adalah ucapan khas ketika seorang Paus diperkenal untuk pertama kalinya kepada publik setelah rapat konklaf. Lalu ada juga ucapan habemus episcopum (we have a bishop); habemus episcopum novum (we have a new bishop) yang memiliki arti kita sudah memiliki seorang uskup baru. Kata-kata ini menjelaskan peristiwa pengumuman seorang uskup baru di Keuskupan Jayapura yang terjadi pada tanggal 29 Oktober 2022 lalu. ‘Habemus episcopum novum’. Inilah jawaban dan seruan yang sangat tepat bagi kita yang telah berharap selama beberapa tahun terakhir atas pemilihan seorang uskup baru sebelum Mgr. Leo Laba Ladjar,OFM menjalani masa purnawaktu.
Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak sebelumnya ada imam asli Papua yang diangkat menjadi uskup? Memang di republik ini, Papua hampir selalu datang dari belakang. Papua banyak menjadi yang terakhir dalam banyak hal. Saya tidak tahu alasannya. Bisa saja karena situasinya memang demikian. Bisa juga karena Papua dikondisikan secara demikian oleh orang-orang tertentu. Papua hampir selalu menjadi yang terakhir. Dari sejarah, Papua sebagai wilayah terakhir yang dimasukan dengan ‘paksa’ ke dalam negara Indonesia. Pembangunan infrastruktur pun ditingkatkan akhir- akhir ini. Pembangunan manusia juga menjadi perhatian serius di tahun-tahun belakangan ini. Hingga menjadi seorang uskup di salah satu wilayah Gereja Katolik Indonesia pun, orang pribumi Papua menjadi orang yang mewakili suatu bangsa besar, bangsa Melanesia di Papua adalah pendatang baru.
Barangkali, bagi kelompok masyarakat tertentu di wilayah lain di Indonesia bahwa mendengar berita pengangkatan uskup baru merupakan sesuatu yang sudah biasa. Tetapi bagi warga Papua dan OAP khususnya, kejadian tanggal 29 Oktober 2022 adalah sesuatu sangat istimewa dan di luar dari kebiasaan sebelumnya. Ini suatu fakta sejarah dan akan tetap diingat oleh generasi seterusnya. Bahwa hari ini seorang imam pribumi Papua dipilih menjadi uskup. Maka jangan heran bahwa di pelbagai sarana komunikasi begitu banyak reaksi yang berasal dari pelbagai umat baik Katolik maupun non-Katolik, baik Papua maupun non-Papua khususnya mereka sudah menjadi warga Papua. Intinya ialah berisi ucapan syukur dan harapan. Syukur atas doa-doa semua umat Katolik di Papua agar seorang imam asli Papua dapat diangkat sebagai uskup.
Pastor Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr [selanjutnya Pastor Yan] dipilih dan diangkat dari antara kita dan untuk kita semua. Pastor atau kemudian Mgr. Yan adalah uskup di sebuah wilayah Gereja Katolik yang bernama Keuskupan Jayapura. Dia adalah pemimpin atau kepala gereja lokal bagi umat Gereja Katolik di keuskupannya. Dia bukan uskup untuk orang Papua tetapi dia adalah uskup dari orang Papua untuk umat Katolik [titik]. Dia adalah seorang gembala, yang akan menjalankan tugas kegembalaan dan pelayanan pastoral di keuskupannya. Dia bukan ‘mesias’ yang dinantikan untuk menjawab semua persoalan tetapi dia adalah pribadi yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang mau bekerjasama dengan dan bersama demi menyukseskan misi Gereja. Dia bukan seorang pemimpin politik yang hanya melayani kekuasaan dan memperjuangkan kesejahteraan bersama, aktivis HAM yang fokus memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi semua orang, ekonom dan pebisnis yang sibuk mencari dan mengejar profit dan berusaha menghadirkan kesejahteraan sosial, pimpin polisi dan tentara lokal di wilayah yang
membuat suasa agar aman dan terkendali, praktisi pendidikan yang konsentrasi pada pelayanan pendidikan dan berusaha untuk mengkritik suasana pendidikan yang bermasalah, dokter atau mantri yang menaruh perhatian khusus pada pelayanan kesehatan. Namun harus diakui bahwa semua bidang kehidupan tersebut adalah karya pastoral di mana dapat memungkinkan dia untuk memimpin sebagai seorang gembala atau pastor yang terus-menerus peka dan tajam dalam melihat situasi dan kebutuhan dan berusaha agar keselamatan jiwa-jiwa menjadi panglima/hukum tertinggi-salus animarum suprema lex. Salus animarum inilah yang membuat seorang uskup atau klerus dan religius dapat melihat tugas dan pelayanan mereka dengan perspektif yang berbeda.
Sebagai uskup baru, Pastor Yan adalah orang yang ditahbiskan menjadi anggota Dewan Para Uskup sedunia, dan sebagai pengganti para rasul. Dia mempunyai tanggung jawab bagi seluruh Gereja (LG 22-23). Pelayannya kepada semua dengan tentu dia memberi perhatian- perhatian khusus kepada domba yang menderita, tersesat, terlupakan, terpinggirkan atau mereka yang umat-masyarakat 4L (the lost,the least, the little and the last). Modal dan nilai option for the poor and option of the poor harus ditegakan. Perhatian khusus perlu dihidupkan oleh agar konsep uskup bagi umat/Gereja universal menjadi lebih konkrit dan hidup dalam Gereja partikular. Universalitas tidak menghapus apalagi menghilang partikularitas. Justru universalitas ada karena dibangun atas kerangka dan didukung oleh partikularitas-partikularitas. Meskipun pelayanannya dan tugas kegembalaannya tidak dibatasi oleh definisi atau batasan dan standar penilaian menurut hukum sipil, sosial, budaya, geografis, politik dan kepentingan, dia tetap memberikan perhatian kepada domba-domba mengalami nasib sebagai mereka yang disebut sebagai yang absent in history.
Dari Papua Menjadi Uskup Gereja Katolik Keuskupan Jayapura; Lambang kesatuan Gereja katolik itu universal tidak dibatasi oleh standar sosial, budaya, politik dan paham tertentu. Itu berarti juga demikian, Pastor Yan sebagai uskup terpilik menjadi pemimpin Gereja universal di wilayahnya. Dia tetap menjaga kesatuan baik kesatuan institusional dan pengajaran, kesatuan hukum dan moral grejawi, dan kesatuan-kebangkitan spiritual. Uskup tampil untuk menyatukan semua kawanan yang berbeda sekalipun; domba-serigala, musuh-sahabat, lawan-kawan. Selain itu, peristiwa pengangkatan ini memberi arti kesatuan bagi masyarakat asli Papua. Peristiwa baru melahirkan kesatuan dan kembangkitan bangsa Papua khususnya umat Katolik dalam hal sosial dan pilihan hidup bersama, soliditas dan solidaritas. Bila kesatuan Indonesi dimulai sejak sumpah pemuda tanggal 28 Oktober maka kesatuan semangat spiritual, sosial dan kultural bangsa Papua khususnya umat Katolik mesti dimulai sejak 29 Oktober 2022 ini. Inilah hari kesatuan dan persatuan semangat umat Katolik Papua.
Hemat saya, peristiwa ini memperkuat refleksi saya tentang Angka Sembilan. Lagi-lagi makna angka Sembilan. Kali ini tanggal 29 bulan Oktober 2022. Hari ini tanggal 29 bulan Oktober 2022 sebagai hari bersejarah dan bermakna bagi Gereja Katolik Papua karena seorang uskup asli Papua pertama diumumukan secara resmi oleh paus melalui pendahulunya Mgr. Leo Laba Ladjar,OFM. Uskup terpilih itu adalah Pastor Yan. Ini ceritera baru dari harapan dan doa yang lama. Tidak lupa saya juga menghubungkan tanggal 29 Oktober ini dengan tanggal kelahiran seorang teman angkatan saya dalam hidup religius yakni P. Stevanus Alo,OSA. Beliau telah dan sedang dan akan melakukan sejumlah transformasi pembangunan fisik sekolah dan sosial serta spiritual bagi anak- anak Papua di SMA Katolik Villanova. Nilai Unitas diperlihatkan lewat menjaga kesatuan spirit dan kesatuan sosial antara guru, murid, orangtua dan siswa. Nilai Veritas dilaksanakannya dalam memberikan semangat kepada para murid dan guru untuk mencari kebenaran ilmu pengetahuan dan kebenaran iman. Nilai Caritas pun tidak luput dari perhatian dan perwujudaanya di mana kasih dan pelayan menjadi hukum tertinggi dalam misi pendidikan katolik. Baik Pastor Yan maupun Pastor Stev akan tetap memperhatikan kesatuan (Unitas), mendorong kita untuk mencari kebenaran (Veritas) dan melayani dengan kasih (Caritas).
Menjadi Uskup Adalah Anugerah Allah Lewat Proses Manusiawi
Menjadi uskup bukan merupakan suatu kebetulan atau kehendak pribadi. Menjadi uskup pertama-tama adalah anugerah Allah. Anugerah Allah itu dianyatakan kepada pribadinya, umat Katolik dan bangsa Papua. Tentunya bahwa Pastor Yan menjadi uskup adalah menurut kehendak dan anugerah Allah karena Dialah sebagai pemilik ladang dan pekerjaan. Tentu ada tawar menawar. Tentu ada ketakutan dan keraguan karena keterbatasan manusiawi. Namun, tetap kita yakin bahwa ini adalah kehendak Tuhan, maka Tuhan yang memanggil, Tuhan memilih, Tuhan yang menetapkan, Tuhan yang mengutus, Tuhan yang samalah yang akan terus memberkati dia. Banyak para nabi juga mengalami hal demikian ketika mereka dipanggil Tuhan
Selain anugerah, Pastor Yan seorang imam asli Papua juga dinilai memenuhi kriteria penilaian calon seorang uskup dan kemudian dinyatakan layak menjadi seorang uskup (baca penjelsaan di https://www.mirifica.net/40995/ dan https://www.imankatolik.or.id/hierarki.html). Dia dianggap layak untuk jabatan itu melalui mekanisme pemilihan calon dan pengusulannya oleh Uskup se-provinsi gerejawi dan Duta Vatikan serta pengangkatan oleh Sri Paus. Paus adalah otoritas tertinggi Gereja yang memiliki hak prerogatif mengangkat salah satu dari tiga nama yang diusulkan atau seorang di luar dari nama itu. Paus juga berhak untuk memberhentikan seorang uskup bila terjadi pelanggaran-pelanggaran yang serius. Jelaslah bahwa otoritas duniawi manapun, intervensi politik apapun dan demonstrasi dari lembaga perwakilan apa saja tidak bisa mempengaruhi otoritas dan keputusan Tahta Suci. Proses pemilihan itu sendiri bukanlah proses demokratis suara terbanyak tetapi sebuah proses institusional, penuh rahasia dan bertahap serta melalui konsultasi dengan sejumlah orang yang berhak untuk itu. Dia terpilih secara legitim dan diangkat dengan bebas oleh Paus. Keseluruhan proses seleksi, mulai dari para Uskup se-provinsi gerejawi, Duta Vatikan, dan Paus dijalankan secara rahasia dan bebas tanpa campur tangan pihak lain atau muatan politis tertentu.
Pastor Yan telah diangkat oleh Paus Fransiskus menjadi seorang uskup. Dia dinyatakan layak dan pantas menjadi seorang uskup. Maka bukan karena kebetulan Pastor Yan seorang imam asli Papua maka dia mendapat hak istimewa untuk dipilih menjadi uskup tetapi dia adalah seorang imam yang memenuhi kriteria penilaian dan pemilihan seorang calon uskup atau seorang uskup. Hukum sipil dan kebijakan politik, Undang-Undang Otonomi Daerah (OTSUS Papua) sama sekali tidak berlaku di sini. Pikiran dan konsep anak adat, anak asli, imam pribumi harus menjadi pemimpin di daerahnya, menjadi tuan di atas tanah sendiri sama sekali ditinggalkan. Jadi Pastor Yan diangkat sebagai seorang uskup bukan karena dia sebagai imam asli Papua tetapi dia menjadi seorang uskup karena memang dia layak untuk itu menurut penilaian yang legitim.
Tambah lagi bahwa Pastor Yan menjadi seorang uskup bukan hanya untuk menjawab desakan umat dan hanya karena hirarki Gereja ‘takut’ terhadap tuntutan kelompok umat yang mengingingkan seorang uskup OAP. Semua tuntutan dan harapan itu dilihat oleh mereka yang memilih dan menentukan sebagai kerinduan dan kebutuhan umat dan kebutuhan pastoral. Jauh lebih di atas iman, harapan dan kasih dari umat di wilayah Gerejani. Ditegaskan lagi bahwa dia menjadi seorang uskup bukan pertama-tama sebagai jawaban atas tuntutan dalam bentuk apa saja meskipun hal-hal itu berpengaruh tetapi dia terpilih karena doa, harapan dan air mata bapa, mama, kaum muda, anak-anak serta calon generasi selanjutnya. Banyak orang telah berdoa dan mengharapkan agar segera diangkat seorang imam asli Papua. Kejadian tanggal 29 Oktober terwujud karena doa yang benar dapat mengubah segalanya termasuk keputusan dan rencana kita, termasuk pemilihanan dan pengangkatan pastor sebagai seorang uskup.
Setelah diangkat menjadi seorang uskup, tugas apa saja yang harus dilakukan. Pastor Yan adalah pekerja di ladang Tuhan yang dibeban tugas khusus dari Allah dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik untuk membangun komunikasi iman yang dapat mempersatukan dan mempertemukan semua umat. Tugas itu dijabar melalui tiga tugas pokok yakni tugas pewartaan (tugas mewartakan dan mengjarkan iman), tugas perayaan (tugas menguduskan dunia lewat doa dan karya kehidupan) dan tugas pelayanan (tugas memimpin dan menggembalakan umat). Kiranya dua sumber iman Katolik ini baik dari Romo Kamilus,Pr dari ‘MirificaNews’ maupun ‘Tim Pengasuh dari Iman’ Katolik membantu kita memahami sejarah, prosedur and konsekuensi yuridis dari pengangatan seorang uskup diosesan menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK, kan. 377-380) dan Lumen Gentium (LG art. 20- 27). Dan dia dianggap layak untuk itu dan dia memiliki kualitias- kualitas yang diperlukan. Dia dinilai sanggup untuk menjalan tugas kegembalaan. Maka kaum imam, religious dan umat diharapkan ikut berkontribusi bagi pembangunan iman umat di keuskupan akan yang dipimpinnya.
Sekarang Uskupmu Sudah Ada, Apa yang Anda dan Saya Berikan!
Kita semua umat Katolik di Papua dan secara khusus umat Katolik asli Papua, serta para imam dan kaum religius di Papua berdoa. Anda dan saya berdoa agar Tuhan memberi Anda seorang uskup pribumi Papua. Kita meminta Tuhan membuat sesuatu tanda kepada kita. Anda bertanya kepada Tuhan, kapan ada uskup asli Papua. Sekarang Tuhan sudah menjawab kita. Sekarang uskupmu sudah ada. Apa yang kita buat dan berikan kepada uskupmu. Apa yang Anda dan saya buat kepada Tuhan sebagai ucapan syukur? Apa yang kita harapkan dari uskupmu? Apa diharapkan kita buat untuk dan bersama uskupmu? Uskupmu ada bersamamu dengan segala kekurangan, keterbatasan, dan kelebihannya dan kemampuannya. Berikanlah segala kelebihan dan keberuntunganmu demi mengisi kekurangan dan keterbatasannya. Dukungan doa dan nasihat tetap diperlukan. Dukungan material juga sangat diperlukan. Kita harus memberi apa yang kita memiliki.
Uskupmu sudah ada. Maka saya mau mengatakan jangan hanya bertanya kapan ada uskup asli Papua, tetapi bertanyalah apa yang Anda dan saya berikan kepada uskupmu dan uskupku agar beliau terus menjadi gembala yang baik. Kita diminta untuk menyumbangkan apa yang kita miliki bagi Gerejamu, Gereja dia dan Gereja kita. Pikiran yang baik dan hati murni dari Anda dan saya dapat membantu beliau untuk memimpin kita. Jangan cepat kecewa dan protes karena uskupmu tidak memenuhi harapan kita. Uskup hadir untuk memastikan bahwa misi Gereja Kristus, proyek keselamatan Allah yang konkrit dan yang kelak tercapai lewat pewartaan, pengudusan-perayaan dan pelayanan.
Patut kita hati-hati terhadap hal-hal yang berbau seremonial dan emotional. Jangan sibuk hanya pada hal itu. Waspada supaya kita tidak boleh jatuh daripadanya. Apa yang saya maksud dengan doa, harapan, simpati, pujian dan dukung seremonial dan emotional-etnisitas? Itu berarti Anda dan saya berdoa dan berharap sebelum ada uskup asli Papua dan sesaat diumumkan bahkan selama dua-lima tahun perjalanannya saja. Itu berarti kita hanya merasa bangga, kagum, dan bahagia saat pengumuman dan pentabisan nanti. Itu berarti kita hanya memuji, berterimakash, mendukung dan merayakan pada awal dan perayaan pentabisan uskup saja. Itu berarti kita hanya bersatu dan kuat, berjalan bersama dan bergerak untuk maju saat sebelum, sesaat dan tiga tahu sesudah pentabisan uskup. Selanjutnya setelah enam bulan, satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, Anda dan saya melupakan dan membiarkan uskupmu dan uskup kita berjalan sendiri. Anda dan saya justru lebih banyak menuntut dan mengharapkan begitu banyak hal darinya. Dari memuji kita bisa memaki-maki karena kesalahan kecil. Dari berterimkasih, kita malas tahu dengan
uskup kita. Dari mendukung, kita tidak mau ambil pusing dan kita menarik dan menghentikan dukungan. Dari merayakan kita menolak mengadakan perayaan karena hemat kita, uskup kita tidak pantas untuk itu. Dari berjalan bersama, kita membiarkan uskup kita berjalan sendiri. Dari kesatuan, kita bisa saja menciptakan perpecahan di dalam tubuh wilayah Gereja yang dikepalainya. Dari menciptakan dialog-komuniasi yang baik, kita bisa saja menghidupkan monolog, membangun isu-isu yang destruktif berhubungan tahta, harta dan wanita. Dari percaya padanya, kita bisa saja berubah menjadi tidak percaya karena menurutmu beliau kaki tangan kekuasaan NKRI. Ketika kita melihat dia berjalan, bertemu atau makan bersama dengan kelompok-kelompok yang kita sendiri tidak menyukai, kita langsung manghakimi. Padahal kita lupa bahwa dia adalah uskup untuk semua.
Mengapa saya mengatakan hal ini? Saya mengamati sejauh ini bahwa bilamana ada pentabisan imam asli Papua begitu banyak umat apalagi umat sesuku, separoki. Ratusan juta bahkan satu Miliar pun hanya dihabiskan untuk acara tiga jam ini. Selanjutnya setelah beberapa minggu, bulan bahkan tahun imamamat nampaknya imam atau kaum religius berjalan sendiri. Atusiasme awal ini seperti hilang sesaat dan hilang jejak. Bisa saja bahwa ada kepentingan lain di balik antusiasme and pengurbanan. Ada motif lain yang tak dilihat (hidden motif). Maka hati-hatilah kita terhadap yang seromonial, emotional dan instan.
Yang seromonial, emotional dan instan ini harus diwaspadai. Pada saat AWAL: bersatu, ramai, dukung, meriah dan mahal. Di TENGAH; malas, membuat malu, mundur, malas tahu. Di AKHIR; menyesal, menuduh, mencaci, melepaskan, membiarakan, mati sudah. Menarik kalau dikaitkan dengan 3T. T1: TEPUK TANGAN atau TEPUK DADA: Uskup kita sudah ada, saat ini kita bersukaria, bersyukur. T2: ANGKAT TANGAN; Uskup membutuhkan bantuan, uskupmu mengalami kesulitan, uskupmu tidak melayani seturut harapanmu, kita tidak mendukung, kita mundur. T3: LEPAS TANGAN; Uskup mengalami kejatuhan, uskup melakukan kesalahan, uskupmu tidak memperhatikan kita secara khusus, kita merasa menyesal, kita menuduh, kita melepaskan tangan dan kita mengharapkan supaya beliau segera diganti. Jadi, hati-hatilah kita terhadap yang seromonial, emotional dan instan.
Pertama (AWARANESS), uskup terpilih dan umat sekalian diingatkan bahwa proyek atau tugas kegembalaan tetap ada dan harus berlanjut. Kedua (CONTINUATION), uskup terpilih dan umat sekalian diberitahu bahwa proses pembangunan gereja dan iman umat merupakan tugas yang harus dilanjutkan oleh uskup baru. Ketiga (RECOQNITON, REHABILATION AND TRANSFORMATION), uskup terpilih dan umat sekalian disadarkan bahwa pembangunan baik fisik maupun umat Allah belum lengkap dan penuh, belum beres, masih banyak kekurangan yang harus diselesaikan, masih ada luka yang perlu disembuhkan, masih banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Semuanya dapat dilakukan dengan berjalan bersama dan bersama-sama mencari jalan dan sarana yang tepat untuk menyelesaikannya.
Habemus episcopum novum! Tuhan sudah menjawab doa dan harapan bersama di mana umat bertanya kepada Tuhan, kapan ada uskup asli Papua. Sudah diumuman uskup terpilih Keuskupan Jayapura. Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr adalah uskupmu, uskupku, dan uskup kita. Lalu, sekarang apa dapat kita dari semua lapisan elemen dalam Gereja Katolik berikan kepada Tuhan dan kepada uskup terpilih. Kitong punya uskup. Mari kitong sama bagandeng tangan dan rame-rame mendukung beliau dalam pelayanan, perayaan dan kegembalaannya.
****
San Agustin Seminary Quezon City, Manila Hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman 2022 [AB]
Angka Sembilan Angka Pengubah Nasibku, Yang Kudamba ialah Kebebasan
(A. Bame,OSA)
Lirikan lagu kaka besarku “hidup ini hanya misteri [..…] yang kudamba yang kunanti tiada lain, hanya kebebasan” membuatku terus berpikir dan berharap tentang mimpi besar dari sebuah bangsa di bagian barat Pulau Papua yang dilumpuhkan oleh kesalahan besar akibat kerakusan-hasrat berkuasa dan dominasi besar segelintir orang baik pebisnis, politisi maupun tokoh agama, tokoh adat masyarakat/adat serta negara yang bermental mafia, kapitalis, oligarkis dan colonizer yang memainkan cara kotor dan keras serta jahat. Sambil memikirkan itu, aku berusaha menghubungkan dengan angka yang penuh misteri, pembawa maut, angka paling mematikan bagi bangsa Papua. Namanya angka Sembilan. Mengapa angka? Karena bahasa deskriptif, bisa saja berubah tergantung siapa yang berkuasa, siapa yang bisa berceritera banyak tetapi angka akan terus menyampaikan kepastian.
Lagi-lagi angka Sembilan. Namanya angka Sembilan. Di sepak bola, sangat penting angka ini bagi pemiliknya. Kedua, adik dari angka ini yakni angka Delapan adalah angka kesempurnaan dari orang di Asia Timur sedangkan Tujuh menjadi angka yang memiliki makna kesempurnaan dan keberuntungan, kesempurnaan penciptaan, anugerah dan berkat bagi keturunan Abraham (darah maupun iman).
Angka Sembilan membangunkan aku dari tidur panjang. Ternyata aku lahir tanggal 29 yang juga merupakan pesta Malaikat Agung, bulan Sembilan, tiga puluh enam tahun yang lalu. Angka Sembilan menyadarkan aku dari mimpi ke realitas. Angka ini menarik aku keluar dari kertas ke realitas. Angka Sembilan mengingatkan aku akan dosa lupa. Angka Sembilan mendorong aku untuk berbicara dan berbuat.
Aku bangun, melihat realitas, dan bertanya dan bertanya. Aku berpikkir dan bertanya; hidup di negeri manusia bukan mauku. Aku berada di pulau ini bukan kehendakku. Tapi aku tahu, dari awal aku diadakan, maka aku berada di sini. Dari Adam sampai Yesus, dari Adam sampai Muhamad. Dari Alfa hingga Omega aku di sini, di negeriku ini, Papua. Dari hidup sampai mati aku adalah manusia, aku sadar akan itu. Hitam kulit,keriting rambut, aku Papua menceriterakan identitas fisikku. Biarpun nanti langit terbelah, aku Papua menyatakan kesadaranku atas eksisitensi diriku yang tak dapat dibagi-dipilah, ditukar dan ditawar, ditipu dan ditiadakan.
Kembali lagi, dari Adam sampai Yesus, dari Adam sampai Muhamad. Dari Alfa hingga Omega aku di sini, di negeriku ini, Papua. Siapa yang bilang aku bukan manusia? Apalagi menyamakan aku dengan hewan tertentu. Mungkin mereka lebih dahulu berasal dari sana pula! Di sini, di tempatku, aku sungguh menikmati kelimpahan, kebebasan dan kebahagian sebelum mengenal engkau. Kedamaian dan persaudaran dengan semua ciptaan sebagi temanku. Tak ada yang kurang dan hilang dariku, terima kasih Tuhan. Tanah leluhurku sudah ada, bahasaku, busurku, atapku sudah dipakai. Aku menikmati kebahagian dan kelimpahan, merasa tak ada yang kurang.
Namun angka sembilan telah merampas semuanya dariku. Enam Sembilan buah kesombong dan kebohongan dipanen setelah beberapa tahun pembibitan yang dilakukan oleh para penjahat demokrasi dan kebebasan. Enam Sembilan aku dimasukan dengan rayuan maut dan moncong pelatuk maut. Enam Sembilan paksaan dan intimidasi mewarnai sebelum dan saat pesta rakyat yang bertentangan dengan NYA-1962 dilaksanakan. Aku harus memilih satu M dari 2M: Masuk atau Mati; Manut atau Maut. Aku diantara pilihan Lanjut atau Lepas, Lari atau Lawan, Maju atau Mundur. Enam Sembilan aku terpaksa mengakui ceritera dan membenarkan narasi bahwa aku dilahirkan premature oleh seekor burung gagah perkasa yang berbeda dan tak kukenal. Padahal induk sejatiku ialah burung surgawi. Enam sembilan kupikir, burung surgawi, ternyata burung duniawi yang tak kukenal. Betapa susah kubayangkan apa jadinya jika telur yang berbeda itu ketika diretas dan dipelihara oleh burung duniawi. Fisik-ku dan diriku serta harta kepunyaanku menjadi ancaman, keuntungan, rampasan dan hinaan mereka. Enam Sembilan aku dimasukan bukan karena diriku, bulu emasku, suara indahku, ketajaman mataku, keindahan tarianku dan kelincahkan terkaman mangsaku tetapi karena gunung emasku, tempat aku menari. Ternyata mimpi besarku sebagai sebuah bangsa dilumpuhkan oleh kesalahan besar akibat kerakusan-hasrat berkuasa dan dominasi besar segelintir orang dan negara yang bermental mafia, kapitalis, oligarkis dan colonizer yang memainkan cara kotor dan keras serta jahat.
Para penikmat gunung emasku yang dijaga jutaan tahun berpesta pora. Hanya enam kata ini yang menceriterakan tentang diri mereka: Rakus, Rekayasa, Ribut, Rebut, Rampas dan Rusak-Robek. Dari enam Sembilan aku tahu, kerakusan mendorong mereka merekayasa. Lalu merampas dan mengusai hingga merusak segalanya dariku termasuk harkat, derajat, martabat dan hak-hak. Dari enam Sembilan itu aku memberontak demi nilai-nilai hidupku, demi hak-hak personal dan komunal. Dari enam sembilan pula air mata dan darah terus mengalir.
Angka sembilan belas tahun dua ribu sembilas membuatku sadar. Aku sadar bahwa aku diperlakukan demikian, meskipun aku tidak menerima. Itu karena aku bukan dari bangsa ini, kata mereka. Bagi mereka iya memang benar, aku dari bangsa lain. Aku dari dunia lain, bangsa monyet, aku dari kaum binatang. Existensiku sebagai manusia ditiadakan oleh mereka. Pantas mereka merampas hakku, menginjak martabatku. Mereka merusak alamku, sumber hidupku. Mereka menghancurkanku dari atas ke bawah, kiri ke kanan, dari ujung kepala lewat belakang hingga ekor.
Aku takut bercampur marah tetapi tak berdaya. Aku kecewa sambil meratap tapi tak dipandang dan didengar. Pikiriku, tak ada yang lain selain melawan. Kumau berjuang untuk melawan demi membela martabatku tetapi sangat susah. Semakin aku berteriak semakin kencang serangan balik. Semakin aku berusaha semakin banyak korban berjatuhan dan semakin banyak darah yang mengalir. Perlawananku demi martabat dan hak-hak pribadi dan bangsaku hanya melahirkan ketidakadilan ke ketidakadilan, pelanggaran yang satu ke pelanggaraan yang lain. Hasil perlawananku bagaikan menangkap angin. Tetapi aku tetap berharap karena keyakinanku mengajarkan demikian.
Aku meminta bantuan, entah ke mana. Negara besar, adidaya, sangat mustahil karena ada kepentingan bisnis di sana; USA dengan Freeport di Timika, Inggris dengan BP di Bintuni, dll. Negara kecil sebangsaku, bisa membantu tetapi sejaumana komitmen dan hasrat mereka. Lebih sakit ketika saudara sebangsa menjadi pengkhianat. Musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya daripada musuh di rumah sebelah. Aku meminta bantuan tetapi aku menjadi ragu juga karena lobby penguasa Indo sangat dahsyat juga. Jangan heran kalau negara-negara kecil sebaangsaku atau negara besar takut bicara yang benar karena mereka juga butuh duit dan proyek besar. Mereka juga pasti ada posisi dan sikap tawarnya. Aku tidak tahu kira-kira berapa juta dollar mereka dapat dari penguasa Indo. Proyek apa yang mereka dapat. Tetapi aku sadar dan yakin, perjuangan bangsaku tidak harus bergantung dan berharap pada mereka karena mereka memiliki misi sendiri untuk negara dan rakyat mereka. Aku harus kuat dan tetap berjuang.
Hanya satu yang kudambakan dan kubutuhkan yakni kebebasan. Kebebasan membawa keadilan, kedamaian bagi diriku, bangsaku. Kebebasan menjamin kebahagiaan sejati bangsaku.
Banyak jalan ke sana tetapi yang paling awal dan cocok ialah duduk bicara. Aku dan yang lain, yang berlawananan denganku duduk di para-para, honai, amah yang sama sambil buka diri, buka hati, buka mata, buka pikiran, buka masa lalu, lihat masa kini, buat rencana masa depan. Masalah bisa selesai dengan mudah, murah, meriah dan memuaskan lewat bicara dari hati ke hati, otak dengan otak bukan dengan otak dan otot, sejawat dan senjata. Masalah bisa selesai dengan cepat, tepat dan bermanfaat bersar ketika komunikasi, dialog menjadi sarana penyelesaiannya. Kita duduk bicara bukan untuk mencari tahu kesalahan, menghakimi, menghukum, menguntuk satu sama lain tetapi untuk memahami dan menyadari jantung-inti masalah, mengakui dan menerima, memaafkan dan dimaafkan, menolak yang tidak baik dan berjanji tidak mengulangi, merapatkan barisan, menyusun komitmen baru dan bergerak bersama. Maka pintu rumah, rumah diriku, rumah bangsaku, rumahmu harus dibuka. Buka. Susah kha? Apa yang susah? Tidak perlu takut sebelum berbicara. Jika dunia menutup rapat pintu dan aku menutup rapat diriku, masalah lama melahirkan masalah lama, masalah melahirkan masalah baru, masalah yang baru melahirkan masalah baru yang lain, masalah demi masalah akan terus terjadi. Mari, angka Sembilan buat kitong duduk bicara.
Athanasius Bame,OSA Anggota Biara OSA Papua
GOURA PATTISELANNO DAN JUSTINUS MARCOS SERANG
BAWAH PULANG MEDALI EMAS DALAM WORLD SCIENCE ENVIRONMENT AND ENGINERING COMPETITION (WSEEC)
UNIVERSITAS INDONESIA (17-20 JULI 2022)
Goura dan Senof(akrabnya) bersama dengan Sarah Simanjuntak dan Kezia Bustan (SMA N 1 Manokwari) dan Petrus G.C. Saiba (SMA N 2 Manokwari) adalah 5 siswa yang diseleksi dari beberapa sekolah di Kabupaten Manokwari oleh Yayasan Indonesia Sejahterah Barokah (YISB) untuk mengikuti ajang WEESC) di Universitas Indonesia (UI) pada tanggal 17-20 Juli 2022). Mereka berhasil dalam kompetisi ini dengan memboyong Medali Emas dan satu Penghargaan dari Macedonia Awards 2022. Sungguh ini merupakan suatu kebanggaan bagi Goura dan Senof juga ketiga kawan-kawannya, membanggakan orangtua serta nama sekolah menjadi viral.
Ajang kompetisi sains internasional ini adalah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scienties Associantien (IYSA) karena melibatkan beberapa negara Asia bahkan beberapa dari Eropa. Kompetisi ini menuntut keabsahan/kemurinian dan kevalidan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peserta. Semuanya harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah pada dewan juri. Pada tahun ini (2022) rupanya ada angin segar dari Papua Barat khususnya kabupaten Manokwari. Karena para pelajar di Kabupaten Manokwari memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini. Kali ini semua penyelenggaraan ditanggulangi oleh Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah (YISB).
Goura dan kawan-kawan adalah peserta hasil seleksi dari beberapa sekolah di Kabupaten Manokwari pada bulan Juni 2022. Kurang lebih ada 37 peserta yang diseleksi oleh pak. Budi Santoso, M.Pd. Dari 37 siswa terpilihlah lima siswa sebagaimana disebutkan di atas. Ke lima siswa ini digenjot melalui pendampingan dan bimbingan kurang lebih 2 bulan, baik secara offline maupun online. Seringkali terbesit bahwa mereka sudah tidak sanggup, karena banyaknya tugas penelitian dan membuat beberapa presentasi dari hasil penelitian. Kegagalan demi kegagalan dalam penelitiannya kadang membuat mereka kendor dalam semangat, namun para pembimbing dan pendamping terus membantu dengan memberikan motivasi dan semangat untuk terus berjuang KAMU BISA. Mengingat materi penelitian mereka cukup berat, yakni membuat BARAPEN dalam bentuk kategori ilmiah. Mereka meneliti tentang Proses pembuatan BARAPEN salah satu tradisi memasak B2 dari Papua dengan rumus fisika, kimia dan biologi. Ditambah lagi bahwa presentasi terhadap hasil penelitian mereka harus disampaikan dalam Bahasa Inggris. Bagi Goura dan Justinus bahasa Inggris adalah bahasa yang telah mereka dalami kurang lebih 3 tahun ketika berada di Australia. Sehingga modal untuk berbahasa telah menjadi dasar yang kuat dalam diri mereka berdua.
Selama kurang lebih 2 Minggu Goura dan kawan-kawan mengikuti WSEEC, dan mendapatkan medali Emas juga Macedonia Awards. Pada tanggal 24 Juli 2022 mereka kembali ke Manokwari untuk membawa kabar gembira ini. Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat memberi Apresiasi bagi ke lima pelajar ini sekembalinya mereka ke tanah air Manokwari. Kepala Dinas Barnabas Dowansiba dan Kepala Bidang SMA Timotius Kambu, menyambut ke lima pelajar ini di Bandara Rendani-Manokwari. Dalam penyambutannya, ke lima pelajar ini diberikan cindramata dari Dinas Pendidikan sebagai ungkapan selamat. Kepala dinas mengatakan dalam wawancaranya yang dilansir dalam Papua Barat TV bahwa akan terus mengakomodir kegiatan-kegiatan yang menunjang SDM anak-anak di Papua Barat melalui kompetisi-kompetisi baik, lokal, nasional bahkan internasional.
Setelah penerimaan oleh dinas pendidikan di bandar udara Rendani-Manokwari, ke lima pelajar ini diarak-arak mengelilingi kota Manokwari oleh orangtua, para peserta dan pemerhati Pendidikan. Penyambutan-penyambutan di tiga sekolah diberikan kepada ke lima anak-anak ini. Teristimewah Goura dan Justinus, disambut dengan meriah oleh para pelajar SMAKVILL dengan marchingband. Ini adalah bentuk rasa syukur dan bangga dari kami sekalian atas prestasi yang diterima oleh kedua anak kami. Harapannya bahwa semoga dengan hasil yang diterima oleh Goura dan Senof, tidak membuat mereka menjadi sombong, melainkan memotivasi adik-adiknya untuk terus belajar dan bersaing. Goura dan Senof saat ini duduk di bangkus SMAKVILL kelas XII program MIPA.
Ke lima pelajar Manokwari ini didampingi oleh Pak Budi Santoso, M.Pd melalui Yayasan Terang Papua dalam persiapan selama kurang lebih 3 bulan. Goura dkk melakukan se
buah penelitian sains berkaitan dengan Barapen (yang merupakan salah satu tradisi budaya orang Papua tentang bakar batu). Mereka mencoba menjelaskan proses barapen dari sisi ilmiah dengan melakukan uji coba lab. Rupanya usaha dari ke lima pelajar ini dapat dipertanggungjawabkan dalam presentasinya kepada dewan juri. Apresiasi dan dukungan diberikan oleh para dewan juri untuk kelima pelajar hebat ini. Mereka telah dipersiapkan dengan begitu baik oleh Pak Budi Santoso, sehingga mendapatkan hasil yang baik.
WEESC yang diselenggarakan di Universita Indonesia tahun ini melibatkan 23 negara dengan 300 kelompok peserta dari jenjang Sekolah Dasar-Universitas. Kompetisi ini dilakukan baik secara offline maupun online. Pengalaman ikut dalam kompetisi WSEEC adalah pengalaman pertama yang membanggakan para pelajar dari Manokwari Papua Barat. Harapan untuk juara memang memiliki kemungkinan kecil, tetapi Tuhan berkehendak lain bahwa ke lima anak kami mampu mendapatkan Medali Emas dalam kompetisi WSEEC dan mendapat penghargaan dari Macedonia Awards. Luapan kebahagiaan, kegembiraan dan syukur menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Orang tua, Yayasan Indonesia Sejahtra Barokah (YSIB), Yayasan Terang Papua dan juga ketiga instansi pendidikan mendapatkan reword yang baik dari hasil yang diperoleh ke lima anak-anak ini. Selanjutnya, pada bulan september Goura dkk akan melanjutkan kompetisi ini di Kuala Lumpur Malaysia ditingkat yang lebih besar. Semoga hasil yang terbaik dapat mereka peroleh.
Selamat dan Sukses
#SMAKVILL UNGGUL#SMAKVILL BISA#
SA
Mgr. Hilarion Datus Lega,Pr Memimpin Misa Penerimaan Sakramen Krisma
di SMA Katolik Villanova Manokwari
P. A. Bame,OSA
Pada Senin, 02 Mei2022 bert
epatan dengan peringatan wajib St. Athanasius, Uskup dan Bapa Gereja dari Alexandria, Mgr. Hilarion Datus Lega,Pr, uskup Manokwari-Sorong didampingi oleh lima imam konselebran (P. Philipus Sedik,OSA, P. Athanasius Bame,OSA, P. Hilarius Soro,OSA, P. Stevanus Alo,OSA, dan P. Soterius Pangguem,OSA) memimpin langsung perayaan ekaristi penerimaan Sakramen Krisma di Aula Navis SMA Katolik Villanova Susweni-Manokwari. Misa yang dimulai tepat pukul 17.00 ini dihadiri oleh para calon penerima krisma, biarawan/biarawati, beberapa orangtua/wali, umat, para guru dan para murid lainnya. Pelayanan Sakramen Penguatan ini diberikan kepada 45 calon penerima yang sebagian besarnya berasal siswa-siswi SMA Katolik Villanova (SMAKVIL) dan ditambah beberapa calon penerima dari paroki terdekat. Para siswa-siswa calon penerima telah mengikuti 12 pertemuan yang dimulai sejak Januari lalu hingga ditutup dengan penerimaan Sakramen Tobat oleh P. Philipus Sedik,OSA dan Pater. Yanurius, Pr pada 30 April 2022. Pembinaan calon penerima krisma diberikan oleh para para pembina di SMAKVIL dan satu keluarga (bapak Yulius dan ibu Vero) dan dilakukan di aula lama yang saat ini dijadikan sebagai tempat ibadah/misa harian. Sedankan para calon yang berasal dari luar SMAKVIL telah mengikuti pembinaan di paroki asal dan direkomendasikan oleh pastor paroki mereka.
Misa dimulai dengan pararakan dari luar menuju Aula Navis. Para calon penerima dengan pakaian putih-hitam
berbaris menuju ke tempat yang sudah disiapkan. Umat yang hadir sudah menampati tempat yang telah diatur oleh para siswa-siswi. Misa sore hingga malam ini diiringi dengan suara indah dan merdu yang mendukung suasana batin serta nuansa liturgi dari paduan suara gabungan dari SMAKVIL yang dipimpin langsung oleh bapak Redy Fatubun. Demikian juga suasana Aula Navis yang didekorasi oleh ibu-ibu dari paroki Emanuel Sanggeng ikut memberikan makna tersendiri bagi perayaan.
Dalam khotbahnya uskup menegaskan mengenai keberanian menjadi saksi Kristus di dunia. Salah satu wujudnya ialah mengikuti model jalan salib Yesus di mana setiap orang Katolik khususnya mereka yang sudah menerima Krisma harus siap mengikuti jalan penderitaan hingga menuju pada jalan pembebasan sebagaiaman Yesus lakukan untuk menyelamatkan manusia. Uskup menambahkan bahwa pengalaman pengadilan Yesus merupakan bukti sejarah bahwa pernah terjadi ketidakadilan dalam dunia pengadilan. Kisah Yesus ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya mengadili manusia saja, tetapi manusia juga mengadili Tuhan. Manusia berlaku tidak adil tidak hanya terhadap sesamanya tetapi juga terhadap Tuhan. Yesus menjalani beberapa hukuman sekaligus seperti hukuman rajam (dipukul, diolok, didera), penyaliban (digantung, dipatahkan tulang-Nya dan ditikam lambung-Nya), dan demontrasi masa yang memperkuat tuduhan palsu dan hukuman mati. Yesus tidak membela diri. Lagipula Dia tidak mengajak serta menghimpun masa untuk membela-Nya. Dia siap sedia menjalani pengadilan yang menghasilkan keputusan yang tidak adil ini karena penyerahan diri secara total dan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa. Orang Katoli juga harus menyerahkan diri secara penuh dan total kepada kehendak Tuhan agar kebesaran nama Tuhan dikenal, dipuji dan dimuliakan lewat pengalaman iman, pengalaman kebangkitan, pengalaman keberhasilan dan pengalaman suka-duka.
Setelah doa penutup Sdr. Yosep Assem mewakili teman-teman menyampaikan ucapan terima kasih. Sedangkan Pater Athan Bame,OSA mewakili pembina dan orangtua memberikan laporan singkat mengenai kegiatan pembinaan, ucapaan terima kasih kepada pihak yang membantu penyelenggaraan misa serta pesan kepada para penerima krisma. Seusai misa diadakan foto bersama dan diakhiri dengan rekreasi bersama. Semoga para penerima Sakramen Krisma lebih berani, tegas, mantap dan pasti dalam upaya menjadikan diri sebagai saksi-saksi Kristus, laskar Kristus dalam pekerjaan, tugas, status, pergumulan dinamika hidup hingga pilihan hidup.